SMP Katolik Tanjungpinang

SMP Katolik Tanjungpinang

Humanis Religus, cerdas, dan Kreatif

Kamis, 12 Desember 2024 11:23

Visi - Misi Sekolah

 

Visi :

Terwujudnya lulusan yang unggul dalam iman, bernalar kritis, dan berbudaya sehat.


Misi :

1)   Menanamkan nilai-nilai keimanan dan cinta-kasih dalam kegiatan sekolah;

2)   Membangun kesadaran akan kasih Tuhan melalui pembiasaan rohani dalam kegiatan  intrakurikuler, kokurikuler, dan ekstrakurikuler;

3)   Membudayakan perilaku jujur, disiplin, dan tanggung jawab sesuai dengan ajaran agama;

4)   Menyelenggarakan pembelajaran yang mendorong murid gemar belajar, tekun, analitis, kreatif, dan inovatif;

5)   Melatih keterampilan berdiskusi, berargumentasi, dan presentasi dalam mengembangkan potensi akademis;

6)   Membiasakan penggunaan teknologi dan literasi digital secara optimal dan bertanggungjawab;

7)   Menanamkan kesadaran akan pentingnya gaya hidup sehat dalam kegiatan cinta lingkungan, olahraga, dan seni yang menyehatkan jasmani dan rohani;

8) Membudayakan perilaku hidup sehat dengan menjaga kebersihan lingkungan, peduli kesehatan diri, dan menjaga kesehatan mental.


Tujuan Sekolah

1) Membentuk pondasi iman-spiritual yang kuat dan mengamalkan nilai-nilai cinta kasih dalam kehidupan sehari-hari.

2) Meningkatkan kemampuan berpikir kritis, analitis,  kreatif, dan bijak dalam penggunaan teknologi digital.

3) Menciptakan perilaku hidup sehat dengan menjaga kebersihan lingkungan, peduli kesehatan diri, dan menjaga kesehatan mental.

Kamis, 12 Desember 2024 06:16

4 Tas SMP Katolik Selengkapnya

SMP Katolik berada di bawah naungan Yayasan Tunas Karya (YTK). YTK merupakan lembaga pendidikan Gereja Keuskupan Pangkalpinang. YTK menyadari bahwa pendidikan merupakan salah satu aspek penting dalam misi pewartaan gereja. YTK juga menyadari bahwa pendidikan di sekolah merupakan fungsi formation pribadi manusia, khususnya dalam aspek kepribadian, pertumbuhan intelektual dan spiritual. Karena itu konsep dasar karya pendidikan Yayasan Tunas Karya merujuk pada fungsi formasi tersebut.

Dengan motto “Buka Pikiran, Sentuh Hati, Bentuk Masa Depan”, YTK menggugah satuan pendidikan asuhannya untuk mengembangkan dan membentuk pribadi peserta didik yang holistik, baik dari segi intelektualnya maupun dari segi perasaan atau kalbu, sehinga mereka kelak dapat memiliki masa depan yang cemerlang. Motto ini merupakan kesimpulan reflektif atas visi, misi, dan spiritualitas, serta 10 keutamaan YTK. Visi YTK adalah dijiwai oleh Allah Tritunggal, menjadi komunitas yang unggul dalam mutu dan terdepan dalam pelayanan pendidikan. Misinya adalah memberikan pelayanan yang profesional dan terbaik, serta meningkatkan mutu pendidikan sesuai dengan tata nilai universal dan nilai katolik. Sedangkan spiritualitasnya adalah Keterbukaan terhadap Roh Kudus, Kesetiaan, dan Kerendahan Hati. Spiritualitas ini merupakan satu aspek yang menginspirasi perumusan 10 keutamaan yang diperjuangkannya, yakni cinta kasih, berbakti, ramah tamah, sopan santun, jujur, disiplin, bertanggungjawab, tekun, bertindak adil, serta bersahaja. Dengan meyakini Allah Tritunggal yang menjiwai keseluruhan pelayanan maka tentu saja komunitas atau satuan pendidikan yang ada didalamnya tergerak oleh iman dan menjadikan komunitasnya unggul dalam mutu dan terdepan dalam pelayanan pendidikan untuk menghadirkan gereja di dunia.

Berdasarkan inspirasi Dokumen Magisterium Ex Corde Ecclesiae, Caritas in Veritate, dan Fides et Ratio tentang sekolah Katolik,  YTK memberi pedoman dalam merumuskan spiritualitas komunitas akademik sekolah Katolik dengan ciri sebagai berikut: 
a. Persekutuan (“communion”) yang mengabdikan diri dalam bidang pendidikan untuk mencari kebenaran.
b. Kegiatan komunitas pendidikan yang mempunyai tugas utama dan luhur yakni melindungi dan meningkatkan martabat manusia.
c. Setiap anggota komunitas pendidikan dijiwai dan dipersatukan oleh semangat kemanusiaan. 

Dengan memperhatikan kemajemukan karakteristik peserta didik secara sosial budaya dan visi-misi YTK, maka satuan pendidikan ini menyadari pentingnya penemuan core values (nilai-nilai inti) tertentu, baik sebagai penghargaan terhadap kemajemukan budaya, maupun sebagai upaya untuk mempertahankan kebaikan bersama (bonum commune). Core Values yang dimaksudkan adala charitas, sosialitas, intelektualitas, dan kreativitas. Core Values ini adalah irisan-irisan keutamaan yang dengannya dapat membantu membentuk karakter peserta didik sebagai persiapan menata masa depan meraka. 

Charitas adalah karakter mengasihi yang menjadi inti pokok ajaran kristiani yang dihidupi. Allah sedemikian mengasihi manusia, maka manusia harus juga merespon kasih itu. Respon manusia akan kasih Allah itu berupa penyerahan diri kepadaNya melalui persekutuan pemikiran dan perasaan dan dengan demikian kemauan seseorang dan kemauan Allah makin menyatu. Oleh karena persekutuan itu, maka setiap orang dapat melihat orang lain sebagai pancaran kasih Allah. Ini relevan dengan kondisi kemajemukan komunitas yang di dalamnya terdapat banyak perbedaan vertikal dan horizontal. Dengan berpangkal pada kasih Allah, komunitas hendaknya juga mengasihi sesamanya, termasuk yang tidak disukai atau tidak dikenal. Dalam kaitan dengan relevansi kasih itu, bila seseorang tidak bersentuhan dengan kasih Allah, maka gambarannya tentang orang lain, hanya dilihat sebagai “orang lain,” pada hal Allah juga hadir dalam diri orang lain tersebut.

Kasih akan Allah dan kasih akan manusia dapat juga terwujudkan dalam kehidupan manusia yang tertata baik relasinya dengan alam tempat pijakannya. Paus Yohanes Paulus II dalam ensikliknya, Redemptor Hominis, memberi peringatan bahwa manusia tampaknya sering "tidak melihat makna lain dalam lingkungan alam daripada apa yang berguna untuk segera dipakai dan dikonsumsi”. Hal ini menunjukkan seolah-olah kasih hanya diwujudkan dalam konteks manusia dengan Allah saja, pada hal mengelola dan merawat alam adalah bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan manusia. Karena itu, ia menyerukan pertobatan ekologis global sebagai tanda ungkapan kasih untuk semua.

Sosialitas adalah karakter sopan santun, ramah, menghargai perbedaan, berbela rasa, jujur, tanggungjawab, berkomunikasi dan kerjasama. Karakter ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan sosial yang majemuk. Bahwasannya, perbedaan vertikal dan horizontal baru dapat dipahami dan digunakan sebagai kekayaan, bila individu-individu berkesadaran untuk mewujudkan sosialitas. Tanpa kesadaran akan fakta yang heterogen itu kehidupan dan kebaikan bersama sulit untuk dibangun. 

Selanjutnya mengenai Intelektualitas. Intelektualitas adalah karakter disiplin, mengatur diri sendiri, tekun, berkemampuan refleksi, berpikir logis, kritis, dan analitis, serta berkemampuan literatif-numeratif. Disiplin berarti ketaatan dan kepatuhan terhadap nilai yang dipercaya dan menjadi tanggung jawab seseorang. Disiplin juga merupakan kemampuan mengendalikan diri agar tetap mematuhi konsensus nilai yang mengatur kehidupan besama. Oleh karena kedisiplinan, maka seseorang dapat secara mandiri mengatur kehidupannya sendiri. Disiplin lahir dari hasil refleksi dan evaluasi analitis yang menunjukkan kemampuan berpikir logis dan kritis. Evaluasi analitis tidak sekedar mencari kekurangan dan kelebihan dari sesuatu, melainkan secara mendalam merefleksikan sejauh mana kontribusi peran seseorang untuk menghasilkan suatu keadaan yang direfleksikan itu sekaligus menentukan aksi apa yang bisa dilakukan untuk memperbaiki atau meningkatkan suatu keadaan yang diinginkan. 

Selain aspek intelektualitas yang banyak menunjukkan kemampuan personal, kreativitas juga menjadi sisi lain dari seorang individu yang tidak berhenti kehidupannya. Kreativitas adalah karakter cipta untuk menghasilkan sesuatu yang baru atau kombinasi dari unsur-unsur yang telah ada sebelumnya menjadi suatu karya baru. Kreativitas menunjukkan kemampuan seseorang untuk selalu ada cara untuk menyelesaikan sesuatu. Tanda-tanda orang yang kreatif adalah berpandangan luas, berjiwa wirausaha, dan bersifat kompetitif. Karakter kreatif sangat dibutuhkan dalam penyelesaian persoalan kehidupan masa kini dan pada masa yang akan datang, sebab tatkala seseorang mempunyai cara penyelesaian yang monoton dan sama seperti kebanyakan orang, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai pribad yang unggul.

 

Kamis, 12 Desember 2024 01:08

Sarana dan Prasarana

denah lingkungan SMP Katolik 1 page 0001

Kamis, 12 Desember 2024 01:35

Sejarah Sekolah

Tonggak awal berdirinya sebuah sekolah tidak terlepas dari berbagai pihak yang telah berjasa di dalamnya. Berdirinya Sekolah Menengah Pertama Katolik Tanjungpinang bermula dari seorang misionaris Belanda bernama RP. Isfried Meijer SS.CC yang datang pada tanggal 12 Februari 1939 dengan membawa kabar baik dan pencerahan pengetahuan kepada semua orang di Tanjungpinang.     Ia merintis sekolah Tionghoa dengan menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar. Sekolah ini kemudian menjadi cikal bakal sekolah-sekolah Katolik di Tanjungpinang. Ia mengajar Bahasa Inggris sekaligus sebagai manajer yang mengelola sekolah. Dalam menjalankan tugasnya, Ia dibantu oleh

Edmund Corijn SS.CC yang didatangkan pada tahun 1939. Dengan alur dan dinamika kemerdekaan Indonesia pengelolaan sekolah ini bertahan sampai tahun 1962. Selanjutnya, sekolah ini dikelola oleh Yayasan Tunas Karya Keuskupan Pangkalpinang. Pada tahun yang sama berdirilah SD Katolik yang beralamat di Jalan Diponegoro No. 74 Tanjungpinang.

Setelah SD Katolik berdiri, maka timbullah animo serta perhatian masyarakat yang begitu besar terhadap sekolah Katolik. Sehingga keinginan besar untuk mendirikan sekolah lanjutan bagi anak-anak mulai terealisasi. Maka, pada tahun 1959 mulai dirintislah SMP Katolik Tanjungpinang oleh para misionaris Eropa dengan cara meminjam  gedung SD Katolik yang telah berdiri terlebh dahulu di Jalan Diponegoro No. 74 Tanjungpinang. Ruang kelas SD Katolik digunakan untuk belajar para siswa  SMP Katolik pada sore hari. Pengelolaan SMP Katolik sejak tahun 1959 sampai dengan pertengahan tahun 1962 dilakukan oleh para Pastor dan Suster yang berkarya di Pulau Bintan dan sekitarnya.

Kemudian, pada akhir tahun 1962 pengelolaan SMP Katolik Tanjungpinang diserahkan pada Yayasan Tunas Karya Pangkalpinang. Kepala Sekolah yang pertama secara resmi terpilih saat itu adalah Bapak K.A.S. Fernandez sampai dengan Juni 1987. Tahun Pelajaran Baru Juli 1987 – Juni 1988 di gantikan oleh Bapak D.S. Simanjuntak. Pada bulan Juli 1988 SMP Katolik Tanjungpinang menempati gedung baru di Jalan Batu Kucing 32, Kelurahan Kampung Bulang Tanjungpinang dan proses pembelajaran dilakukan pada pagi hari. Kepala Sekolah terpilih pada saat itu adalah Bapak F. Sunarno periode Juli 1988 – Juni 1997, kemudian dilanjutkan oleh Bapak P. Yudisto Kristy periode Juli 1997 – Juni 2003, lalu digantikan oleh Ibu Fransisca Kayatun periode Juni 2004 –  Juni 2007.  Setelah itu dilanjutkan oleh Bapak Hieronymus Emillianus Sunarta, S.Pd periode Juli 2007 – Juli 2008, kemudian dilanjutkan oleh Bapak Thomas Mas Leden, S.Pd periode  Juli 2008 – Juni 2012, lalu lanjutkan oleh Ibu Sri Martini, S.Pd periode 1 Juli 2012 – 1 Juni 2016, kemudian dilanjutkan oleh Bapak Selamat Simarmata, S.Si periode 1 Juli 2016 hingga Juni 2023, dan pada saat ini dijabat oleh Bapak Fransiskus Xaverius Kanga.